Rabu, 02 Januari 2013

Lingkungan Pesisir Sebagai Daerah Aliran Buangan Limbah


Lingkungan Pesisir Sebagai Daerah Aliran Buangan Limbah

Wilayah pesisir adalah daerah pertemuan antara darat dan laut dengan batas kearah darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air yang masih mendapat pengaruh sifat laut seperti angin laut, pasang surut, perembesan air laut yang dicirikan oleh jenis vegetasi yang khas. Wilayah pesisir juga merupakan suatu wilayah peliharaan antara daratan dan laut, dimana ciri – ciri perairan masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar maupun proses yang disebabkan oleh kegiatan manusia didarat seperti penggudulan hutan dan pencemaran.
Namun demikian perlu dipahami bahwa pesisir sebagai tempat peralihan antara dara dan laut serta wilayah pesisir ditandai adanya gradient perubahan sifat ekologi yang tajam dan karenannya merupakan wilayah yang peka terhadap gangguan akibat adanya perubahan lingkungan dengan fluktuasi di luar normal. Dari segi fungsinya wilayah pesisir merupakan zone penyangga bagi hewan – hewan migrasi. Akibat pengaruh aktivitas manusia yang meningkat seperti pencemaran minyak hasil kegiatan eksploitasi tambang minyak di lepas pantai serta transportasi minyak, pembuangan limbah permukiman dan industry, perairan pesisir akan mengalami tekanan ( stress ),  yang cenderung mengarah pada menurunnya kualitas lingkungan wilayah pesisir terganggu  keseimbangan alami. Apalagi ditambah dengan penangkapan ikan yang berlebihan dan pengrusakan ekosistem koral secara fisik.
Pencemaran wilayah pesisir merupakan zat – zatt maupun bahan – bahan buangan atau limbah, oleh karena itu pemanfaatan ganda yang tidak direncanakan dengan cermat akan menimbulkan masalah lingkungan yang berhubungan dengan bahan buangan. Sampah organic dari dari kota akan terbawa aliran sungai dan pada akhirnya akan mencapai perairan wilayah pesisir. Jika dilihat dari sumber kejadian jenis kerusakan lingkungan ada yang dari luar system wilayah pesisir, pencemaran berasal dari pembuangan limbah yang sebagian kegiatannya berasal dari pembangunan. Secara garis besar gejala kerusakan lingkungan yang mengancam kelestarian sumber daya pesisir dan lautan di Indonesia. Oleh karena itu perlu diketahui bahan pencemaran maupun perairan dan kemungkinan terjadinya peningkatan pencemaran serta kerusakan lingkungan yang disebakan karena lingkungan pesisir sebagai daerah aliran buangan limbah, untuk mempertahankan kelestarian daya guna perairan wilayah pesisir, kebiasaan menggunakan perairan sebagai tempat pembuangan sampah dan bahan buangan industry perlu diatur berdasarkan perundangan.
Kesimpulan.
Kerusakan lingkungan dapat terjadi karena adanya kegiatan yang dilakukan oleh manusia maupun karena pengaruh alam. Lingkungan pesisir merupakan salah satu lingkungan perairan yang mudah terpengaruh dengan adanya buangan limbah dari darat, karena merupakan daerah pencampuran antara darat, laut dan udara yang secara ekologis daerah pesisir sangat kompleks dan mempenyai nilai sumberdaya yang tinggi. Bahan pencemaran yang berasal dari berbagai kegiatan baik industry, pertanian, rumah tangga dapat menimbulkan dampak negative yaitu terjadinya degradasi fisik dari habitat, abrasi pantai, kerusakan hutan mangrove, kerusakan terumbu karang, hilangnya benih – benih bandeng, udang dan juga organism lainnya yang ada di daerah tersebut akan terpengaruh. Wilayah pesisir merupakan wilayah yang memiliki arti strategis baik secara ekonomi, sosial dan ekologi. Ketidak mampuan mengapresiasi kawasan ini diindikasikan oleh persepsi akan rendahnya nilai ekonomi kawasan karena hanya melihat nilai pasar dan nilai kegunaan langsung semata. Akibatnya overeksploitasi dan kerusakan lingkungan serta pemanfaatan sumber daya yang tidak berkelanjutan sering menjadi masalah dalam pengelolaan wilayah pesisir di Indonesia. Penilaian sumber daya pesisir baik pasar maupun non-pasar patut difahami oleh pengambil kebijakan karena pemahaman akan nilai yang utuh akan layanan barang dan jasa akan memberikan umpan balik yang positif bagi pembangunan wilayah pesisir. Langkah-langkah strategis seperti pemetaan nilai ekonomi wilayah pesisir berbasis GIS, serta mengembangkan protokol valuasi ekonomi summber daya pesisir akan menjadi langkah positif dalam menangani dan mengelola summber daya di wilayah pesisir Referens


Sumber :








Tidak ada komentar:

Posting Komentar