Selasa, 01 Januari 2013

Pohon Ku “Sayang” Pohon Ku “Malang”


Penduduk dunia kini telah mencapai 7 milyar, bahkan ada kecenderungan jumlah tersebut kian bertambah. Negara dengan jumlah penduduk terbanyak adalah Cina (1.306.313.812 jiwa), India (1.103.600.000 jiwa), Amerika Serikat (298.186.698 jiwa), dan Indonesia (257.516.167 jiwa). Manusia sebagai mahluk hidup tentunya membutuhkan oksigen untuk proses pembakaran bahan bakar (respirasi) di dalam tubuh untuk menghasilkan energi agar terus mempertahankan hidupnya. Manusia sendiri membutuhkan oksigen sekitar 67% dari tubuh manusia. Setiap manusia mengkonsumsi oksigen dalam jumlah yang sama sebesar 600 liter/hari atau 840 gram/hari . Memang selama ini oksigen didapat secara cuma-cuma dari alam. Namun, apakah oksigen akan terus tersedia melimpah di alam?

Meningkatnya perkembangan pembangunan dan penduduk akan menyebabkan penurunan luas lahan hutan atau vegetasi. Peningkatan kendaraan umum dan jumlah penduduk akan berimplikasi pada peningkatan gas buangan CO2 dan CO ke udara. Dengan semakin meningkatnya populasi penduduk, maka berdampak juga terhadap produktivitas pohon dan berpengaruh terhadap kualitas udara yang mengandung oksigen karena pencemaran udara yang disebabkan kendaraan umum. Emisi yang dikeluarkan oleh satu kendaraan umum adalah sebesar 252 ton/hektar . Angka ini menyebabkan polusi besar dan merupakan salah satu penyebab Global Warming yang menjadi isu dunia.

Dengan kondisi tersebut, apakah produksi oksigen masih dalam kondisi yang ideal? Secara rata-rata, dalam daur hidupnya setiap pohon bisa mencukupi oksigen (O2) untuk kebutuhan 18 (delapan belas) orang dan menyerap karbondioksida (CO2) dari mobil yang berjalan sekitar 41.834 km. Pohon besar menyerap kira-kira sebesar 120-240 pounds partikel kecil atau gas polutan. Hanya tumbuhanlah yang menghasilkan oksigen di bumi ini, pohon dengan tinggi 25 m dan diameter batang 15 m, akan mempunyai luas tutupan batang 160 m² dan luas permukaan daun sebesar 1600 m², akan menghasilkan oksigen sebanyak 1712 gram. Sedangkan untuk 1 hektar lahan hijau dengan total luas permukaan daun 5 hektar akan membutuhkan 900 kg CO2 untuk melakukan fotosintesis selama 12 jam, dan pada waktu yang sama akan menghasilkan 600 kg O2.

Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk, lahan yang tadinya merupakan tempat tumbuhnya pohon menjadi berkurang. Padahal, luas ideal lahan hijau di perkotaan minimal adalah 40%. Jika kurang dari angka 40%, akan dirasa kurang dalam menangani masalah globalWarming ke depannya. Karenanya, sangat disarankan bagi tiap-tiap rumah mempunyai tanaman hijau sebagai penopang kebutuhan oksigen dan menyerap CO2 dan CO di dalam atau pun di luar rumah. Selain itu, area lahan terbuka hijau yang ada sebaiknya tidak dikonversi menjadi pemukiman, kawasan industri, atau yang lainnya. Keberadaan hutan sebagai mesin pencetak oksigen juga harus tetap dipertahankan demi keberlangsungan bumi tercinta ini.


Sumber :








  PERKEMBANGAN KOTA YOGYAKARTA

   Pada awal perkembangannya permukiman kota Yogyakarta cenderung memusat pada poros besar Selatan Utara, Permukiman berupa kampung tempat tinggal penduduk lambat laun tumbuh di sekitar poros yang melintasi istana dari ujung ke ujung dan alun-alun utara, jalan Malioboro dan kemudian hingga ke Tugu .
      Salah satu persoalan penting dihadapi oleh kota Yogyakarta dalam perkembangan saat ini adalah masalah pemekaran fisik kota. Kota makin menghadapi tantangan untuk meluaskan wilayah tata ruang kota sebagai akibat dari perubahan penggunaan lahan untuk berbagai kepentingan penduduk semakin mendesak              
Dua faktor penyebab perubahan penggunaan lahan tersebut menurut beberapa penelitian adalah
1  Faktor konsentrasi penduduk.
2. Faktor kebutuhan ketersediaan fasilitas social ekonomi  yang mendorong perubahan penggunaan lahan  pertanahan kota,antara lain mencakup segi-segi kebutuihan sebagai berikut :   
(1) Penambahan lahan untuk permukiman dan perumahan. 
      (2) Perluasan dan penambahan panjang jalan untuk sarana transportasi.                                                                                                         
      (3) Fasilitas perdagangan, yaitu jumlah pasar, pertokoan, Swalayan, Mall.  
      (4) Fasilitas pendidikan, yaitu gedung persekolahan. 
      (5) Fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit, klinik.   
      (6) Fasilitas peribadatan, yaitu mesjid, mushala dan gereja atau sejenisnya
      (7) Fasilitas kelembagaan, dll
  Selain itu pada akhir-akhir ini Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta juga sedang merencanakan pencarian lahan untuk pelabuhan udara baru sebagai akibat dari tidak memadainya pelabuhan udara Adisucipto untuk menampung arus penerbangan yang makin padat pada akhir-akhir ini. Lebih-lebih pada waktu sekarang Yogyakarta telah membuka jalur penerbangan internasional. sehingga pembangunan pelabuhan internasional menjadi kebutuhan yang mendesak. Selain itu kota Yogyakarta yang menjadi kota tujuan wisata menuntut perluasan-perluasan fasilitas pengembangan wisata baik dalam kota maupun di daerah sekitarnya. Pengaruh globalisasi dalam sector perekonomian juga tampak mempengaruhi arus perubahan kota Yogyakarta.
Yang menjadi persoalan ialah bagaimana perluasan wilayah perkotaan itu dapat dilakukan, mengingat luas lahan kota yang tersedia sangat terbatas, sementara perkembangan otonomi daerah akan membatasi ruang gerak pemekaran wilayah antara satu wilayah dengan wilayah yang lain.
Kesimpulan
A.Salah satu pengaruh terpenting dari perubahan-perubahan demografis dan   social-ekonomi yang mempengaruhi kota Yogyakarta antara lain ialah terjadi persoalan pemekaran kota yang secara terus-menerus akan terjadi sebagai akibat dorongan dan kebutuhan penggunaaan lahan untuk kepentingan penduduk kota dalam berbagai dimensi kehidupan. Problema pertanahan kota menjadi sangat rumit sebagai akibat dari banyaknya keterbatasan dan kendala yang dihadapi kota Yogyakarta pada masa mendatrang.
B.Kecenderungan perubahan kota Yogyakarta yang menarik adalah kecenderungan  perubahan kota dari Kota Tradisional menjadi Kota Nasional atau Kota Indonesia, menuju perkembangan ke arah Kota Internasional.

NARASUMBER :
- http:// www.jogjakota.go.id/index/extra.detail/21 
- http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Yogyakarta
- http://staff.uny.ac.id
- http://edukasi.kompasiana.com
- http://www.jogjainfo.net